MANUSIA PERLU DI DIDIK DAN DAPAT DI DIDIK

A. HAKIKAT MANUSIA

1. Asal-usul Manusia

Dalam perjalanan hidupnya manusia mempertanyakan tentang asal-usul alam semesta dan asal-usul kebenaran dirinya. Terdapat dua aliran pokok dalam filsafat yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu Evolusionisme dan Kreasionisme (J.D. Butler, 1968).

Evolusionisme, manusia adalah puncak dari mata rantai evotusi yang terjadi di alam semesta. Manusia sebagaimana halnya alam semesta ada dengan sendirinya berkembang dari alam itu sendiri, tanpa Pencipta. Penganut aliran ini antara lain Herbert Spencer, Charles Darwin, dan Konosuke Matsushita.

Kreasionisme menyatakan bahwa asal usul manusia sebagaimana halnya alam semesta adalah ciptaan suatu Creative Cause atau Personality, yaitu Tuhan YME. Penganut aliran ini antara lain adalah Al-Ghazali.

Dalam Al-Qur’an Surat As-Sajdah : 7-8;

üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ ¢OèO Ÿ@yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B ÇÑÈ

7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

8. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.

Al-Hijr: 28-29;

øŒÎ)ur tA$s% y7/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) 7,Î=»yz #\t±o0 `ÏiB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*yJym 5bqãZó¡¨B ÇËÑÈ #sŒÎ*sù ¼çmçF÷ƒ§qy àM÷xÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ÓÇrr (#qãès)sù ¼çms9 tûïÏÉf»y ÇËÒÈ

28. dan mereka bertanya: "Bilakah kemenangan itu (datang) jika kamu memang orang-orang yang benar?"

29. Katakanlah: "Pada hari kemenangan itu tidak berguna bagi orang-orang kafir, iman mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh."

at-Thariq 6-7;

t,Î=äz `ÏB &ä!$¨B 9,Ïù#yŠ ÇÏÈ ßlãøƒs .`ÏB Èû÷üt/ É=ù=Á9$# É=ͬ!#uŽ©I9$#ur ÇÐÈ

6. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,

7. yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.

Ya Sin:77;

óOs9urr& ttƒ ß`»|¡RM}$# $¯Rr& çm»oYø)n=yz `ÏB 7pxÿõÜœR #sŒÎ*sù uqèd ÒOÅÁyz ×ûüÎ7B ÇÐÐÈ

77. dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!

az-Zumar:6;

/ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oyÏnºur §NèO Ÿ@yèy_ $pk÷]ÏB $ygy_÷ry tAtRr&ur /ä3s9 z`ÏiB ÉO»yè÷RF{$# spuŠÏZ»yJrO 8lºurør& 4 öNä3à)è=øƒs Îû ÈbqäÜç/ öNà6ÏG»yg¨Bé& $Z)ù=yz .`ÏiB Ï÷èt/ 9,ù=yz Îû ;M»yJè=àß ;]»n=rO 4 ãNä3Ï9ºsŒ ª!$# öNä3š/u çms9 à7ù=ßJø9$# ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( 4¯Tr'sù tbqèùuŽóÇè? ÇÏÈ

6. Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan[1306]. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

Al-Mu'minun: 12-14).

ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ

12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

Dari ayat-ayat at-Quran diatas dapat dipahami bahwa hakikat manusia berpangkat pada dua asal: asal yang jauh, yaitu kejadian pertama dari tanah, ketika Allah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh ciptaanNya kepadanya; dan asal yang dekat, yaitu kejadian kedua dari nutfah (Abdurrahman an-Nahlawi, 1989:54).

Secara filosofis penolakan terhadap ajaran Evolusionisme tersebut dimuka antara lain didasarkan kepada empat argumen berikut ini:

Argumen ontologist Semua manusia memiliki ide tentang Tuhan. Sementara itu, bahwa realitas (kenyataan) lebih sempurna dari pada ide manusia. Sebab itu, Tuhan pasti ada dan realitas ada-Nya itu pasti lebih sempurna daripada ide manusia tentang Tuhan.

Argumen kosmologis: Segala sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. Adanya alam semesta termasuk manusia adalah sebagai akibat. Di alam semesta terdapat rangkaian sebab-akibat, namun tentunya mesti ada Sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh yang lainnya. Sebab Pertama adalah sumber bagi sebab-sebab yang lainnya, tidak berada sebagai mated, melainkan sebagai "Pribadi" atau "Khalik".

Argumen Teleologic: Segala sesuatu memiliki tujuan (contoh: mata untuk melihat, kaki untuk berjalan dsb.). Sebab itu, segala sesuatu (realitas) tidak terjadi dengan sindirinya, melainkan diciptakan oleh Pengatur tujuan tersebut, yaitu Tuhan.

Argumen Moral : Manusia bermoral, dapat membedakan perbuatan yang baik dan yang jahat, dsb. Ini menunjukkan adanya dasar, sumber dan tujuan moralitas. Dasar, sumber, dan tujuan moralitas itu adalah Tuhan.

2. Wujud dan Potensi Manusia

Menurut Julien de La Mettrie - salah seorang penganut aliran Materialisme bahwa esensi manusia semata-mata bersifat badani, esensi manusia adalah tubuh atau fisiknya. (J.D. Butler, 1968).

Sebaliknya, menurut Plato - salah seorang penganut aliran Idealisme bahwa esensi manusia bersifat kejiwaan/ spiritual/rohaniah. Memang Plato tidak mengingkari adanya aspek badan, namun menurut dia jiwa mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada badan. Jiwa berperan sebagai pemimpin badan, (J. D. Butler, 1968).

Rene Descartes mengemukakan pandangan lain yang secara tegas bersifat dualistik. Menurut Descartes esensi manusia terdiri atas dua substansi, yaitu badan dan jiwa. (S.E. Frost Jr., 1957),

Demikian pandangan filosofis Descartes.

Namun demikian, lain lagi dalam pandangan common sensenya, Descartes sebaliknya mengakui adanya hubungan antara badan dan jiwa. Menurutnya badan dan jiwa satu sama lain saling mempengaruhi. Pandangan hubungan badan dan jiwa seperti ini di kenalsebagai paham Interaksionisme (Titus dkk, 1959).

Sebagai penolakan terhadap paham Interaksionisme muncul paham Paaletisme. Menurut paham ini, tak ada hubungan saling mempengaruhi antara badan dan jiwa. sebagaimana dikemukakan oleh Leibniz (1646-1716) bahwa keserasian tersebut disebabkan karena sudah diciptakan sebelumnya oleh Tuhan.

Semua pandangan di atas dibantah oleh E. F. Schumacher (1980). Menurut Schumacher manusia adalah kesatuan dari yang bersifat badani dan rohani yang secara prinsipal berbeda daripada benda, tumbuhan, hewan, maupun Tuhan.

Menurut Abdur Rahman Shalih Abdullah (1991) menegaskan: "meski manusia merupakan perpaduan dua unsur yang berbeda, ruh dan badan, namun ia merupakan pribadi yang integral".

Sebagai kesatuan badani-rohani manusia hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kesadaran (consciousnesss), memiliki kesadaran diri (self-awareness), mempunyai berbagai kebutuhan, instink, nafsu, serta mempunyai tujuan. Manusia mempunyai potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan potensi untuk berbuat baik, namun di samping itu karena hawa nafsunya ia pun memiliki potensi untuk berbuat jahat. Selain itu, manusia memiliki potensi untuk mampu berpikir (cipta), potensi berperasaan (rasa), potensi berkehendak (karsa), dan memiliki potensi untuk berkarya. Adapun dalam eksistensinya manusia berdimensi individualitas/ personalitas, sosialitas, moralitas, keberbudayaan dan keberagamaan. Implikasi dari semua itu, manusia memiliki historisitas, berinteraksi/berkomunikasi, dan memiliki dinamika.

c. Dimensi-dimensi Manusia

1. Individualitas Personalitas

Dari uraian di atas dapat di pahami bahwa manusia bukan hanya badannya, bukan pula hanya rohnya. Manusia adalah kesatuan yang tak dapat dibagi antara aspek badani dan rohaninya, dst. Dalam kehidupan sehari-hari dapat disaksikan adanya perbedaan pada setiap orang, sehingga masing-masing bersifat unik. Perbedaan ini berkenaan dengan postur tubuhnya, kemampuan berpikirnya, minat, hobi, cita-citanya, dsb. maka manusia hakikatnya adalah pribadi, dan subjek. Sebagai pribadi atau subjek, setiap manusia bebas mengambil tindakan atas pilihan serta tanggung jawabnya sendiri (otonom) untuk menandaskan keberadaanya di dalam lingkungan.

2. Sosialitas

Sekalipun setiap manusia adalah individual/personal, tetapi ia tidak hidup sendirian, tak mungkin hidup sendirian, dan tidak mungkin hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan hidup pula dalam keterpautan dengan sesamanya. Dalam hidup bersama dengan sesamanya (bermasyarakat), setiap individu menempati kedudukan (status) tertentu, mempunyai dunia dan mempunyai tujuan hidupnya.

Sehubungan dengan ini Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat (Ernst Cassirer, 1987).

manusia takkan menyadari Individualitasnya kecuali melalui perantaraan Pergaulan sosial. Adapun Theo Huijbers mengemukakan bahwa "dunia hidupku dipengaruhi oleh orang lain sedemikian rupa, sehingga demikian mendapat arti sebenarnya dari aka bersama orang lain itu" (Soerjanto P. clan K. Bertens,1983). SebaIiknya, terdapat pula pengaruh dari individu terhadap masyarakatnya. Masyarakat terbentuk dari individu-individu, maju mundurnya suatu masyarakat akan ditentukan oleh individu-individu yang membangunnya (Iqbal, 1978). Z,

Karena setiap manusia adalah pribadi/ individu, dan karena terdapat hubungan pengaruh timbal balik antara individu dengan sesamanya, maka idealnya situasi hubungan antara individu dengan sesamanya itu tidak merupakan hubungan antara subjek dengan objek, melainkan subjek dengan subjek yang oleh Martin Buber disebut hubungan (Maurice S. Friedman, 1954). Selain itu, hendaknya terdapat keseimbangan antara individualitas dan sosiatitas pada setiap manusia.

3. Ke-berbudayaan

Kebudayaan adalah "keseluruhan sistem gagasan, tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar" (Koentjaraningrat, 1985). Ada tiga jenis wujud kebudayaan, yaitu:

a. sebagai kompleks dari ide-ide, ilmu pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan­-peraturan, dsb.;

b. sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan

c. sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Manusia memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan kebudayaan, ia hidup berbudaya dan membudaya. Manusia menggunakan kebudayaan dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhannya atau untuk mencapai berbagai tujuannya. Di samping itu kebudayaan menjadi milik manusia, menyatu dengan dirinya, ia hidup sesuai dengan kebudayaannya. Karena itu, kebudayaan bukan sesuatu yang ada di luar manusia, melainkan meliputi perbuatan manusia itu sendiri. Bahkan manusia itu baik menjadi manusia karena dan bersama kebudayaannya. Di dalam kebudayaan dan dengan kebudayaan itu manusia menemukan dan menjadikan diri. Berkenaan dengan ini Ernst Cassirer menegaskan: "Manusia baik menjadi manusia karena sebuah faktor di dalam dirinya, seperti naluri atau akal budi, melainkan fungsi kehidupannya, yaitu pekerjaannya, kebudayaannya. kebudayaan termasuk hakikat manusia (C.A.VanPeursen,1988).

Sejak abad yang lalu kebudayaan disinyalir telah menimbulkan krisis antropologis. Berkenaan dengan ini Martin Buber mengemukakan contoh keterhukuman manusia oleh karyanya sendiri : Manusia menciptakan mesin untuk melayani dirinya, tetapi akhirnya manusia menjadi pelayan mesin. Demikian pula dalam bidang ekonomi, semula manusia berproduksi untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi akhirnya manusia tenggelam dan dikuasai produksi (Ronald Gregor Smith, 1959).

Kebudayaan tidak bersifat statis, melainkan dinamis. Kodrat dinamika pada diri manusia mengimplikasikan adanya perubahan dan pembaruan kebudayaan. Hal ini tentu saja didukung oleh pengaruh kebudayaan masyarakat/bangsa lain terhadap kebudayaan masyarakat tertentu, Serta dirangsang pula oleh tantangan yang datang dari lingkungan. Selain itu, mengingat adanya dampak positif dan negatif dari kebudayaan terhadap manusia, masyarakat kadang-kadang terombang ambing diantara dua relasi kecenderungan. Di satu pihak ada yang mau melestarikan bentuk­-bentuk lama (konservatif), sedang yang lain terdorong untuk menciptakan hal-hal baik (inovatif). Ada pergolakan yang tak kunjung reda antara tradisi dan inovasi. Hal ini meliputi semua kehidupan budaya (Ernst Cassirer, 1987).

4. Moralitas

Eksistensi manusia memiliki dimensi moralitas, sebab manusia memiliki kata hati yang dapat membedakan antara baik dan jahat. Adapun menurut Immanuel Kant disebabkan pada manusia terdapat rasio praktis yang memberikan perintah mutlak (categorical imperative). Contoh : jika Anda meminjam buku milik teman, rasio praktis atau kata hati Anda menyatakan bahwa buku itu wajib dikembalikan. (S.E. Frost Jr., 1957; P.A. van der Weij, 1988).

Sebagai subjek yang otonom (memiliki kebebasan), manusia setatu dihadapkan pada suatu alternatif tindakan yang harus dipilihnya. Adapun kebebasan untuk bertindak/berbuat itu selalu berhubungan dengan normo-norma moral dan nilai-nilai moral yang juga harus dipilihnya. Karena manusia mempunyai kebebasan memilih untuk bertindak dan berbuat, maka selalu ada penilaian moral atau tuntutan pertanggung-jawaban atas setiap perbuatannya.

5. Keberagamaan

Keberagamaan merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilakunya. Hal ini terdapat pada manusia manapun, baik dalam rentang waktu (sekarang akan datang), maupun dalam rentang geografis dimana manusia berada.

6. Historisitas, Komunikasi / interaksi dan Dinamika

Berbagai dimensi eksistensi manusia sebagaimana telah diuraikan terdahulu mengimplikasikan bahwa eksistensi manusia memiliki dimensi historisitas, komunikasi/interaksi, dan dinamika.

Historisitas. Eksistensi manusia memiliki dimensi historisitas, artinya bahwa keberadaan manusia pada saat ini terpaut kepada masa lalunya, ia belum selesai mewujudkan dirinya sebagai manusia, ia mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. Historisitas memiliki fungsi dalam eksistensi manusia. Historisitas turut membangun eksistensi manusia. Sehubungan dengan ini Karl Jaspers menyatakan: "Manusia harus tahu siapa dia tadinya, untuk menjadi radar kemungkinan menjadi apa dia nantinya. Masa lampaunya yang historis adalah faktor dasar yang tidak dapat dihindarkan bagi masa depannya" (Fuad Hasan, 1973).

Komunikasi /Interaksi. Dalam rangka mencapai tujuan hidupnya, manusia berinteraksi/berkomunikasi. Komunikasi/interaksi ini dilakukannya baik secara vertikal, yaitu dengan Tuhannya ; secara horizontal yaitu dengan alam dan sesamanya.

N. Drijarkara S.J. (1986) menyatakan bahwa manusia mempunyai atau berupa dinamika. Dinamika mempunyai arah horizontal (ke arah sesama dan dunia) maupun arah transendental (ke arah Yang Mutlak). Adapun Dinamika adalah untuk penyempurnaan diri baik dalam hubungannya dengan sesama,maupun dunia dan Tuhan.

Manusia adalah subjek, sebab itu ia dapat mengontrol dinamikanya. Namun demikian karena ia adalah kesatuan jasmani-rohani, sebagai insan sosial. maka dinamika itu tidak sepenuhnya selalu dapat dikuasainya. Terkadang muncul dorongan-dorongan negatif yang, bertentangan dengan apa yang seharusnya, kadang muncul pengaruh negatif dari sesamanya yang tidak sesuai dengan kehendaknya, kadang muncul kesombongan yang tidak seharusnya diwujudkan, kadang individualitasnya terlalu dominan atas sosialitasnya. Sehubungan dengan itu, idealnya manusia harus secara sengaja dan secara prinsipal menguasai dirinya agar dinamikanya itu betul-betul sesuai dengan arah yang seharusnya.

B. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG PERLU DIDIDIK

Dalam eksistensinya manusia mengemban tugas untuk menjadi manusia ideal. Sosok manusia ideal merupakan gambaran manusia yang dicita-citakan. Sebab itu, sosok manusia ideal tersebut belum terwujudkan melainkan harus diupayakan untuk diwujudkan (prinsip idealitas).

Manusia memang tetah dibekali berbagai potensi untuk mampu menjadi manusia, misalnya: potensi uniuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, potensi untuk dapat berbuat baik, potensi cipta, rasa, karsa, Namun demikian setelah kelahirannya, bahwa potensi itu mungkin terwujudkan, kurang terwujudkan atau tidak terwujudkan. Manusia mungkin berkembang sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya (menjadi manusia), sebaliknya mungkin pula ia berkembang ke arah yang kurang atau tidak sesuai dengan kodrat dan martabat kemanusiaannya (kurang dan atau tidak menjadi manusia). Dengan demikian perkembangan kehidupan manusia tersebut merupakan sifat yang terbuka atau serba mungkin. Inilah prinsip posibilitas/ prinsip aktualitas.

Manusia belum biasa selesai menjadi manusia, ia dibebani keharusan untuk menjadi manusia, tetapi ia tidak dengan sendirinya menjadi manusia, untuk menjadi manusia ia perlu dididik dan mendidik diri.

Menurut Kant dalam teori pendidikannya (Henderson, 1959). "Manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan", Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil studi M.J. Langeveld yang memberikan identitas kepada manusia dengan sebutan Animal Educandum (M.J. Langeveld, 1980).

Terdapat tiga prinsip antropologis yang menjadi asumsi perlunya manusia mendapatkan pendidikan dan perlunya manusia mendidik diri, yaitu:

(1) prinsip historisitos

(2) prinsip idealitas, dan

(3) prinsip posibilitas/aktualitas.

C. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG DAPAT DI DIDIK

1. Prinsip Potensialitas.

Pendidikan bertujuan agar seseorang menjadi manusia ideal. Sosok manusia ideal tersebut antara lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, bermoral berakhlak mulia, cerdas, berperasaan, berkemauan, mampu berkarya, Disisi lain, manusia memiliki berbagai potensi, yaitu: potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, potensi untuk mampu berbuat baik, potensi cipta, rasa, karsa, dan potensi karya. Sebab itu, manusia akan dapat dididik karena ia memiliki potensi untuk menjadi manusia ideal.

2. Prinsip Dinamika.

Ditinjau dari sudut pendidik, pendidikan diupayakan dalam rangka membantu manusia (peserta didik) agar menjadi manusia ideal. Dipihak lain, manusia itu sendiri (peserta didik) memiliki dinamika untuk menjadi manusia ideal. Manusia selalu aktif baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. la selalu menginginkan dan mengajar segala hal yang lebih dari apa yang telah ada atau yang telah dicapainya. la berupaya untuk meng-aktualisasi-kan diri agar menjadi manusia ideal, baik dalam rangka interaksi/ komunikasinya secara horizontal maupun vertikal. Karena itu dinamika manusia mengimplementasikan bahwa ia akan dapat di didik.

3. Prinsip Individualitas

Praktek pendidikan merupakan upaya membantu manusia (peserta didik) yang antara lain diarahkan agar ia mampu menjadi dirinya sendiri. Disisi lain, manusia (peserta didik) adalah individu yang memiliki dirinya sendiri (subyektivitas). bebas dan aktif berupaya untuk menjadi dirinya sendiri.

4. Prinsip Sosialitas

Pendidikan berlangsung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) antar sesama manusia (pendidik dan peserta didik). Melalui pergaulan tersebut pengaruh pendidikan disampaikan pendidik dan diterima peserta dididik. Dengan demikian Hakikat manusia adalah makhluk sosial, ia hidup bersama dengan sesamanya. Dalam kehidupan bersama dengan sesamanya ini akan terjadi huhungan pengaruh imbal balik dimana setiap individu akan menerima pengaruh dari individu yang lainnya. Sebab itu, sosialitas mengimplementasikan bahwa manusia akan dapat dididik.

5. Prinsip Moralitas

Pendidikan bersifat normatif, artinya dilaksanakan berdasarkan sistem norma dan nilai tertentu. Di samping itu, pendidikan bertujuan agar manusia berakhlak mulia, agar manusia berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang bersumber dari agama, masyarakat dan budayanya. Dipihak lain, manusia berdimensi moralitas, manusia mampu membedakan mana yang baik dan yang jahat. Sebab itu, dimensi moralitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik.

M.J. Langeveld (1980) Menyimpulkan bahwa manusia akan dapat dididik, ini memberikan identitas kepada manusia sebagai "Animal Educabile".


KESIMPULAN

Manusia sebagai Makhluk yang perlu dididik (Animal Educandum) dan dapat dididik (Animal Educabile) اَلحَْيَوَانُ ناَطِقٌ

Manusia adalah makhluk Allah SWT, sebagai kesatuan badani-rohani, manusia hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kesadaran (consciousnesss), memiliki penyadaran diri (self-awareness), mempunyai berbagai kebutuhan, instink, nafsu, serta mempunyai tujuan. Manusia mempunyai potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki potensi untuk berbuat baik dan untuk berbuat jahat; memiliki potensi untuk mampu berpikir (cipta), potensi berperasaan (rasa), potensi berkehendak (karsa), dan potensi untuk berkarya. Dimensi eksistensi manusia meliputi individualitas/ personalitas, sosialitas, moralitas, keberbudayaan dan keberagamaan.

manusia adalah individual/ personal, adapun karakteristiknya bahwa manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bersifat unik, dan merupakan subjek yang otonom, serta berada dalam pertumbuhan dan perkembangan.

konsep hakikat manusia Berdasarkan lima prinsip antropotogis yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu :

(1) prinsip potensialitas

(2). prinsip dinamika,

(3) prinsip individualitas,

(4) prinsip sosialitas, dan

(5) prinsip moralitas.

Terimakasih Telah Mengunjungi Blog Supriyadi HS. (www.supriyadihs.co.cc)