PERKEMBANGAN TEORI KOMUNIKASI

A.        PELACAKAN TEORI KOMUNIKASI
Wilbur Schramm mendefinisikan teori sebagai : ‘suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar yang tinggi, dan daripadanya proposisi bisa dihasilkan yang dapat diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi mengenai perilaku’. Dari definisi ini jelas bahwa teori merupakan hasil telaah dengan metode ilmiah. Fungsi teori adalah menerangkan, meramalkan/memprediksikan, dan menemukan keterpautan fakta-fakta secara sistematis.
Sementara itu, Littlejohn mendefinisikan teori komunikasi dalam pengertian yang paling luas, yaitu sebagai penjelasan konseptual mengenai proses komunikasi. Berbicara tentang konsep, Littlejohn menandaskan bahwa konsep adalah unsur pertama di antara empat jenis unsur yang terdapat dalam teori. Konsep adalah abstraksi yang menggeneralisasikan hal-hal yang khusus yang disusun secara sistematik dan logis dengan memadukan ciri-ciri dan fakta-fakta terkait. Unsur kedua adalah keterpautan (relationship), yaitu hubungan antara konsep-konsep. Unsur ketiga adalah penjelasan (explanation). Unsur keempat adalah pernyataan nilai (value statement).
Dalam ilmu komunikasi, teori seringkali dipertukarkan dengan model. Mengenai kaitan teori dengan model, seorang ahli filsafat Abraham Kaplan memberikan pandangan bahwa teori terdiri dari dua jenis yang luas. Ada teori yang secara khusus berkaitan dengan suatu subyek tertentu, dan ada yang bersifat umum yang dapat diterapkan pada berbagai bidang. Jenis teori yang terakhir merupakan perangkat lambang dan hubungan logis di antara lambang-lambang yang dapat diterapkan melalui analogi terhadap beberapa kejadian atau proses. Kaplan menganggap teori jenis terakhir sebagai suatu model. Jadi, bagi Kaplan, semua model adalah teori, tapi tidak semua teori merupakan model.
 
B.        TEORI-TEORI KOMUNIKASI PADA TAHAP AWAL
Hingga sekarang tercatat tidak kurang dari seratus teori dan model komunikasi yang diketengahkan para pakar komunikasi, terutama pakar Amerika. Di bawah ini adalah teori dan model komunikasi yang tampil pada tahun awal sekitar dekade 1940-an dan 1950-an.

1.         MODEL LASSWELL

Lasswell menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan : Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect (Siapa Mengatakan Apa Melalui Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Efek Apa). Jawaban dari pertanyaan itu merupakan unsur-unsur komunikasi :
Communicator/komunikator, message/pesan, channel/media, receiver/komunikan, dan effect/efek.

2.         TEORI S-O-R

Teori ini singkatan dari Stimulus-Organism-Response, semula berasal dari psikologi. Menurut teori ini, efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan.
gambar di atas menunjukkan bahwa perubahan sikap komunikan tergantung dari proses yang terjadi pada diri komunikan tersebut. Pesan akan diterima sehingga komunikasi dapat berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Dan jika komunikan telah mengerti, maka komunikan pun akan menerimanya. Selanjutnya, timbulah kesediaan untuk mengubah sikap.

3.         MODEL S-M-C-R
Rumus ini adalah singkatan dari Source-Message-Channel-Receiver. Channel atau media di sini mengandung dua pengertian, yaitu :
a.              Media primer, yaitu LAMBANG, misalnya bahasa, warna, gambar, dll, yang digunakan khusus dalam komunikasi tatap muka.
b.             Media sekunder, yaitu MEDIA YANG BERWUJUD, misalnya media cetak dan media elektronik.
 
4.         TEORI MATEMATIKAL KOMUNIKASI

             Disebut juga MODEL SHANNON & WEAVER. Pada tahun 1948, Claude E.

Shannon mengetengahkan teori matematik dalam komunikasi permesinan, yang kemudian bersama Warren Weaver pada tahun 1949 diterapkan pada proses komunikasi manusia. Teori ini merupakan proses linier dan menitikberatkan pada saluran (channel/media).
Gambar di atas menunjukkan bawa KOMUNIKAN (source) memproduksi sebuah PESAN (message; bahasa, musik, gambar, dll). Oleh PEMANCAR (transmitter) pesan diubah menjadi ISYARAT (signal) yang sesuai bagi saluran yang akan digunakan. PENERIMA (receiver) melakukan kebalikan operasi yang dilakukan pemancar, yaitu merekonstruksi pesan dari isyarat. TUJUAN (destination) adalah orang atau benda yang kepadanya pesan ditujukan.
 
5.         MODEL SIRKULAR OSGOOD & SCHRAMM
Teori ini merupakan proses sirkuler dan menitikberatkan pada perilaku pelaku-pelaku utama dalam komunikasi.
Gambar di atas menunjukkan baik komunikan maupun komunikator berperilaku sama, yaitu ENCODING (menjadikan), DECODING (menyandi balik), dan INTERPRETING (menafsirkan).

6.         MODEL HELICAL DANCE
Bentuk helix, yaitu suatu bentuk yang semakin lama semakin membesar menunjukkan bahwa proses komunikasi bergerak maju dan apa yang dikomunikasikan kini akan mempengaruhi struktur dan isi komunikasi yang akan datang. Singkatnya, komunikasi bersifat dinamis. Karena, seperti halnya semua proses sosial, komunikasi terdiri dari unsur-unsur yang terus-menerus berubah.


7.         TEORI DISONANSI KOGNITIF

Disonansi kognitif berarti ketidaksesuaian aspek kognitif dengan aspek behavior pada diri seseorang. Menurut teori ini, komunikasi akan efektif jika mengurangi disonansi yang ada.

8.         TEORI INOKULASI (Teori Suntikan)
Teori ini menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki informasi mengenai suatu hal, maka ia akan lebih mudah dibujuk oleh karena ia tidak siap untuk menolak argumentasi orang yang membujuknya. Suatu cara untuk membuatnya agar tidak mudah terkena pengaruh adalah “menyuntiknya” dengan argumentasi balasan (diinokulasi).
Para politikus sering melakukan hal ini. Mereka memperingatkan khalayaknya bahwa lawan politiknya mungkin akan mencoba mempersuasi mereka dengan berbagai pandangan. Mereka memberitahu pada khalayaknya apa yang mungkin dikatakan oleh lawan politiknya seraya memberikan alasan mengapa lawannya itu salah.

9.         TEORI PELURU

Teori ini merupakan konsep awal efek komunikasi massa yang pada tahun 1970-an dinamakan sebagai Teori Jarum Hipodermik.
Wilbur Schramm awalnya mengatakan bahwa seorang komunikator dapat menebakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khlayak yang pasif dan tak berdaya. Namun, kemudian ia menemukan bahwa sasaran media massa itu ternyata tidak pasif.
Lazarsfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab, karena kadang-kadang peluru itu tidak menembus. Ada kalanya pula efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak.
Raymond Bauer mengatakan bahwa khalayak secara aktif mencari yang mereka inginkan di media massa. Jika menemukannya, mereka lalu melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhannya.


C.        TEORI-TEORI KOMUNIKASI PADA TAHAP SELANJUTNYA

            Berikut ini adalah teori-teori komunikasi yang umumnya berkaitan dengan media massa yang sejak tahun 1950-an semakin canggih sehingga dampaknya pun semakin kuat dan luas.

1.         Four Theories Of The Press/ Empat Teori Pers

Tiga orang cendekiawan Amerika; Fred S. Siebert, Theodore Peterson, dan Wilbur Schramm pada tahun 1956 menerbitkan buku berjudul “Four Theories of the Press”. Buku tersebut mengupas empat sistem pers yang berlaku di berbagai negara. Pada awalnya keempat teori itu memang TEORI PERS, namun seiring dengan perkembangan media massa (tv, radio, film, dll) selanjutnya, maka teori itu berubah menjadi TEORI MEDIA MASSA.
a. Authoritarian theory (teori otoriter)
b. Libertarian theory (teori liberal)
c. Soviet communist theory (teori komunis soviet)
d. Social responsibility theory (teori tanggung jawab sosial)

2.         Individual Differences Theory/ Teori Perbedaan Individual

Diketengahkan oleh Melvin D. Fleur, teori ini menelaah perbedaan-perbedaan di antara individu-individu sebagai sasaran media massa ketika mereka diterpa sebuah pesan sehingga menimbulkan efek tertentu.
Menurut teori ini, khalayak secara selektif memperhatikan suatu pesan komunikasi, khususnya jika berkaitan dengan kepentingannya, akan disesuaikan dengan sikap, kepercayaan, dan nilai-nilai yang dianutnya. Jadi, efek media massa pada khalayak tidak seragam, melainkan beragam yang disebabkan oleh perbedaan struktur kejiwaan masing-masing setiap individu.

3.         Social Chategories Theory/ Teori Kategori Social
Teori ini menyatakan adanya perilaku yang hampir seragam pada masyarakat urban-industrial ketika diterpa stimulus tertentu karena adanya kesamaan pada beberapa hal, misalnya usia, pendidikan, dll.
Asumsi dasar dari teori ini adalah teori sosiologis yang menyatakan bahwa meskipun masyarakat modern bersifat heterogen, penduduk yang memiliki sejumlah ciri yang sama akan memiliki pola hidup tradisional yang sama. Demikian pula mereka cenderung akan memilih pesan komunikasi yang kira-kira sama dan menanggapinya dengan cara yang hampir sama pula.

4.         Social Relationship Theory/ Teori Hubungan Social
Teori ini menunjukkan bahwa hubungan informal berperan penting dalam mengubah perilaku seseorang ketika diterpa pesan komunikasi massa. Suatu penelitian menemukan adanya semacam kegiatan informasi melalui dua tahap. Pertama, informasi bergerak dari media kepada orang-orang yang relatif banyak pengetahuannya (well informed). Kedua, informasi bergerak dari orang-orang itu (opinion leader) melalui komunikasi antarpribadi kepada orang-orang yang kurang diterpa media (two step flow of communication).
5.         Cultural Norms Theory/ Teori Norma Budaya
Teori ini menyatakan bahwa media massa mampu mempengaruhi norma-norma budaya umum dan pandangan khalayak terhadapnya. Dalam hal ini, sedikitnya ada tiga bentuk pengaruh :
    Pertama : pesan komunikasi bisa memperkuat (reinforce existing patterns) dan mengarahkan orang-orang untuk percaya bahwa suatu bentuk sosial dipelihara oleh masyarakat.
         Kedua : media massa mampu menciptakan keyakinan baru (create new shared convictions) mengenai suatu topik, dengan topik mana khalayak kurang berpengalaman sebelumnya.
         Ketiga : media massa bisa mengubah norma-norma yang sudah ada (change existing norms) dan karenanya juga mengubah tingkah laku orang-orang.

6.         Social Learning Theory/ Teori Belajar Sosial

Dalam teori ini, Albert Bandura mengkaji proses belajar melalui media massa sebagai tandingan terhadap proses belajar secara tradisional. Jika proses belajar seseorang dimulai dari pengamatan terhadap sebuah peristiwa, maka peristiwa itu tentunya tidak hanya yang dialaminya sendiri, tapi juga yang disajikan oleh media massa.

7.         Diffusion Of Innovations Midel/ Model Difusi Inovasi
Teori ini akhir-akhir ini banyak digunakan sebagai pendekatan dalam komunikasi pembangunan, terutama di negara-negara berkembang.
Difusi inovasi sendiri berarti suatu jenis khusus komunikasi yang berkaitan dengan penyebaran ide-ide baru (inovasi) melalui saluran tertentu dan dalam jangka waktu tertentu di antara para anggota suatu sistem sosial.

8.         Use And Gratification Model/ Model Kegunaan Dan Kepuasan
Model ini merupakan pergeseran fokus dari tujuan komunikator kepada tujuan komunikan. Model ini menunjukkan fungsi komunikasi massa dalam melayani khalayak.
Model ini menyatakan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah “bagaimana media mengubah perilaku khalayak”, tapi “bagaimana media memenuhi kebutuhan khalayak”. Model ini memulai dengan lingkungan sosial yang menentukankebutuhan kita. Kebutuhan individual sendiri dikategorikan sebagai berikut :
a.         Kebutuhan kognitif
Berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan, da pemahaman mengenai lingkungan yang didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan; juga memuaskan rasa penasaran.
b.         Kebutuhan afektif
Berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan emosional.
c.         Kebutuhan pribadi secara integrative
Berkaitan dengan peneguhan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individual terkait hasrat akan harga diri.
d.        Kebutuhan sosial secara integrative
Berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman, dan dunia terkait hasrta untuk berafiliasi.
e.         Kebutuhan pelepasan
Berkaitan dengan upaya menghindari tekanan, ketegangan, dan hasrat akan keanekaragaman.
9.         Clozentropy Theory/ Teori Clozentropy
Penelitian dengan landasan teori ini dilakukan karena dalam komunikasi internasional, disatu pihak pesan dari negara A perlu diterjemahkan ketika disampaikan kepada negara B,tapi dilain pihak ada juga yang tidak memerlukan penerjemahan.Kendati demikian, timbul pertanyaan apakah dalam komunikasi dengan menggunakan bahasa resmi yang sama itu dapat diperoleh pemahaman yang maksimal, jika pesan yang disampaikan itu dalam konteks nasional dan kebudayaan yang berbeda.
Terimakasih Telah Mengunjungi Blog Supriyadi HS. (www.supriyadihs.co.cc)